Thursday, December 14, 2017

perjalanan pulang


Awal 2017 sampai mendekati pertengahan saya melakukan sebuah "perjalanan" yang belum pernah saya lakukan sebelumnya. Saya belum pernah mencapai jarak sejauh itu. Waktu itu saya sedang asik bermain di sebuah taman bermain sampai kemudian seseorang menyuruh saya pulang tanpa memberi saya cukup alasan yang bisa saya terima.

Walaupun saya kebingungan, saya memutuskan untuk mengiyakan. Akhirnya, saya meninggalkan taman bermain itu dan mencari jalan pulang sendiri.

Fyi, saya anaknya mudah tersesat dan sulit menghapal jalan. Yang terjadi berikutnya tentunya penuh dengan rentetan acara kesasar dan salah jalan. Tapi diantara berbagai acara salah belok atau berhenti di perempatan kelamaan karena tidak tahu harus mengambil jalan yang mana, saya menemukan orang-orang baik hati yang dengan sabar menunjukkan, menuntun, dan menjelaskan kemana saya sebaiknya melanjutkan perjalanan.

I know I'm supposed to go home. But the term home itself has never been this absurd before.

Saya mengalami kesulitan. Bahkan untuk sekedar bangun dari tempat tidur saja rasanya saya harus menangis dulu setiap pagi. Untungnya, ada orang-orang baik hati yang bersedia duduk menemani, menunggu sampai saya siap untuk memulai hari.

"Kamu nggak pa-pa?"

Hampir setiap hari saya mendengar itu. Saya selalu bilang saya baik-baik saja, hanya sedikit tersesat. Tidak sampai hati rasanya menceritakan bahwa saya disuruh pulang tapi tidak tahu jalan. Saya tahu mereka pun punya masalahnya masing-masing. And mine was probably nothing compared to them.

Saya terus mencari sendiri. Berusaha bangun setiap pagi dan berjalan lagi. Berharap di perempatan depan akan ada sebuah petunjuk yang bertuliskan: Rumah 500 m. Walaupun masih belum menemukan petunjuk itu, dari hari ke hari saya menjadi lebih kuat. Saya sudah tidak menangis setiap pagi, tidak juga saat tersesat di tengah hujan lebat. Saya lebih banyak belajar dan mengamati. Saya rajin mencatat jalan demi jalan yang sudah saya lewati. Saya mencatat kemana saya pergi, berapa langkah yang saya ambil setiap hari, dan apa saja yang saya temui.

Saya mulai menemukan kekuatan dari diri saya sendiri walaupun kadang masih ada rasa marah dan sakit hati karena diusir pulang tanpa tahu kenapa. Tapi saya belajar untuk mencerna rasa sakit dan kemarahan saya. Saya berusaha memaklumi diri saya sendiri. Saat saya merasa sedih atau marah, saya memang tidak bisa berjalan lebih jauh dibanding hari biasa. Dan itu tidak apa-apa. Saya tidak memaksakan diri lagi. Saya membiarkan diri saya berjalan dengan kecepatan yang terasa paling nyaman bagi saya. Ada saatnya saya merasa berlari lebih ringan dibanding berjalan biasa tapi ada juga saatnya berjalan satu atau dua langkah saja rasanya seperti menggunakan semua tenaga yang masih tersisa.

Dalam perjalanan ini saya sempat sakit cukup parah beberapa kali. Sakit itulah yang membuat saya sadar kalau menjadi sehat untuk diri saya sendiri adalah sesuatu yang sangat penting. Saya berusaha memperbaiki pola makan, berolahraga dengan lebih rutin, dan istirahat dengan cukup. Beberapa waktu berlalu dan kondisi saya membaik. Tapi baru berjalan beberapa minggu, saya kemudian sakit lagi. Sakit yang kali ini berbeda. Saya mengalami kesulitan tidur yang membuat dokter sendiri bingung apa penyebabnya. Saya justru kemudian diarahkan untuk bertemu dengan seseorang dan kemudian menghabiskan beberapa sesi hanya untuk bicara. Tidak semua orang berkenan mendengarkan keluh kesah kita tapi ternyata ada seseorang yang memang dibayar untuk itu. Pekerjaannya adalah untuk mendengarkan keluh kesah kita dan menawarkan solusi atau perspektif lain. Saya terus meningkatkan kedisiplinan saya untuk makan, olah raga, dan istirahat secara teratur serta beberapa waktu sekali menemui seseorang untuk menceritakan apapun yang sedang saya hadapi. Ternyata, memang seseorang ini yang saya butuhkan. Lewat pembicaraan saya dengan orang ini, saya menjadi lebih terbuka dan lebih bisa menanggapi kesulitan yang sedang saya hadapi. Saya belajar untuk lebih memahami diri saya sendiri. Saya perlahan-lahan membuka pintalan benang kemarahan dan kesedihan yang mengikat dada saya. Saya membebaskan diri saya sendiri.

Beberapa waktu lalu saya kembali melihat orang yang menyuruh saya pulang dari taman bermain itu ternyata sudah menemukan teman bermain lain. They looked happy. Mau tahu apa yang saya rasakan? Sejujurnya saya tidak merasa apa-apa. Mungkin sudah sepantasnya dia dan saya berbahagia dengan cara kami masing-masing. 

Semua orang berhak memilih siapapun teman perjalanan yang mereka kehendaki walau sekarang bagi saya pribadi, saya punya satu syarat tambahan untuk saya ingat sendiri: jangan sampai proses memilih teman perjalanan nanti harus menyakiti orang lain seperti apa yang pernah saya alami.

Satu minggu yang lalu saya kembali tumbang. Segala cara saya lakukan untuk kembali bisa berjalan tapi ternyata badan saya masih butuh waktu. Saya kembali menjumpai seseorang untuk bercerita. Saya merasa sudah membuka semua pintalan benang kemarahan dan kesedihan tapi entah kenapa masih ada yang terasa belum benar. Masih ada yang mengganjal, tapi saya masih belum tahu apa. Sampai kemudian kemarin siang saya menemukan tulisan di blog saya sendiri 2,5 tahun lalu.

Memaafkan diri saya sendiri. Ternyata mungkin masih ada sedikit kemarahan yang saya rasakan pada diri saya sendiri. Dan tidak ada yang bisa menyembuhkan saya selain saya.

Ini adalah perjalanan pulang yang saya tempuh di 2017. Saya menutup 2017 dengan menemukan diri saya sendiri. Ternyata rumah yang saya cari ada di dalam diri saya sendiri. Bukan taman bermain yang saya tinggalkan, bukan teman bermain yang menyuruh saya pulang, bukan tempat singgah yang ditawarkan orang-orang. Dan bukan pula blog ini.

Saya mulai menulis blog ini di tahun 2009. Pernah ada cerita tentang Iceman, Barney, dan sedikit tentang teman bermain yang menyuruh saya pulang. Semua itu perjalanan yang yang ternyata harus saya lewati untuk menemukan rumah. Kali ini saya menemukan rumah yang saya cari: diri saya sendiri. Saya merasa lengkap sekarang.

Akhirnya, saya tidak lagi mencari. Yang ada sekarang adalah menikmati setiap perjalanan dengan teman perjalanan terbaik

Setelah ini mungkin saya tidak akan menulis di blog ini lagi. Blog ini akan tetap ada di sini. Sebuah saksi bahwa saya pernah menempuh perjalanan yang bagi beberapa orang mungkin tidak seberapa tapi bagi saya sendiri berarti segalanya. Saya akan terus berjalan dan melanjutkan perjalanan. Kemanapun itu, saya tahu itulah tempat yang harus saya datangi. Catatan-catatan perjalanan berikutnya akan bisa kalian temukan disini.


So I guess that's for now. I'll see you on the road, fellas! ;)

Friday, November 17, 2017

about losing someone

Admit it we all have been there. Losing someone dear to our heart. And one of my friend just did. He lost someone so close to his heart. He lost his very close friend which also was an acquaintance of mine from highschool.

“I’d like to imagine he’s somewhere around the beach just sitting around. Somewhere far away from here with his new identity. Just frolicking all day, enjoying life, having fun. Do you think I’m crazy if I keep that imagination?” he asked me.

“Well, if you tell a lot of people about your thoughts maybe some of them will think that you’re losing your mind. But I personally think that it’s okay. Do whatever it takes as long as it makes you feel okay and give you comfort. It’s not easy so I think it’s okay to think that he’s somewhere else in this universe, enjoying his life. The difference is that you can’t contact him anymore. If the thought of him being okay makes you feel okay, it’s fine by me.”

“Maybe every now and then some random account on instagram will view your story or like your photos. And it could be him,” I said to my friend. And he smiled.

We all have been there. Losing someone who once was close to our heart that it made us refuses to get up in the morning, to eat, and even sleep. But whatever it is, we have to keep going. We have to continue our life. Our life doesn’t stop just because someone else’s does.

“I don’t even look up for reasons anymore. I don’t try to find the answer because even if I do, it won’t bring him back.”

I wonder what it feels like to lose someone you send weird memes or internet jokes the second after you read them. I wonder what it feels like to lose someone you once shared all of your dirty laundry with. I wonder what it feels like to lose someone who will do anything just to cheer you up when you have such a bad day, in a bad mood, or having personal breakdown.

I wonder what it feels like when the next time you find weird memes or internet jokes, when you want to share some craziness, when you want to do nothing but you’d like to have a company. When you have all of that and the person you want to share that with won’t be there. And every single damn time you remember that person won’t be there remind you of why that person won’t be there. And I bet it’s killing you every single damn time you remember why that person won’t be there.

So I personally think it’s okay to have wonderful thoughts about our loved ones that’s already gone. It’s okay to think that they’re somewhere in this world maybe living at Alpen, Hawaii, New York, or inside Harry Potter World in Universal Studio and living their life normally and happily. It’s okay if that thought makes you feel better. It’s okay if that thought can make you get up in the morning, give you a smile, and then you’re ready to live your life.


And I know it’s not easy. It’s always a long road to be okay again. But you don’t have to go through it alone. You don’t.